Selasa, 25 Maret 2014

KISAH DAUN JANCUKAN DI ARGOPURO



Argopuro, ya itulah nama salah satu gunung di Jawa Timur. Dibutuhkan perjuangan untuk mendakinya, tapi setara dengan pemandangannya. Belum lagi daun jancukan yang unik dan kisah di baliknya.

Pegunungan Argopuro terletak di antara 3 kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Situbondo, serta Kabupaten Bondowoso. Untuk jalur pendakiannya sendiri terdapat 2 pintu masuk, yakni Jalur Bremi yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo atau jalur Baderan yang merupakan wilayah administratif Kabupaten Situbondo. Pegunungan Argopuro sendiri termasuk dalam wilayah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah III Jawa Timur.

Pegunungan Argopuro dikenal dengan panjangnya jalur pendakian yang harus ditempuh oleh pendaki. Total jarak pendakian pegunungan Argopuro sendiri kurang lebih sekitar 40-an km. Setidaknya, jika memilih untuk melakukan trekking 2 jalur, maka akan melintasi 2 wilayah kabupaten yang berbeda.

Ketika melakukan pendakian ke Argopuro, saya bersama rekan-rekan menghabiskan waktu 4 hari 3 malam. Sepanjang perjalanan, pendaki akan disuguhkan berbagai macam bentang alam yang tidak kalah dengan gunung-gunung yang menjadi favorit para pendaki, seperti Gunung Semeru atau Gunung Rinjani. Setidaknya, jika dibandingkan dengan 2 gunung tersebut, terdapat kesamaan, yakni adanya danau pada jalur pendakian.

Jika Gunung Semeru terkenal dengan danau Ranu Kumbolo, dan Gunung Rinjani terkenal dengan Danau Segara Anak, maka pegunungan Argopuro pun memiliki Danau Taman Hidup. Danau Taman Hidup sendiri terkenal dengan suasana eksotis yang pasti akan meninggalkan kenangan bagi setiap orang yang pernah berkunjung kesana. Pada pinggiran danau, ada sebuah dermaga kecil yang bisa menjadi tempat untuk sekedar menikmati danau, atau bahkan tempat merenung bagi mereka yang senang mencari inspirasi.

Ketika kabut turun menuju permukaan danau, pendaki seakan menyaksikan sebuah suguhan yang tidak biasa, dan bisa jadi hanya bisa disaksikan di pegunungan Argopuro. Sepanjang proses pendakian, para pendaki akan menemukan beberapa sumber mata air yang melimpah. Beberapa di antaranya terdapat di Pos Aeng Kenek, Aeng Poteh, Rawa Embik, Cisentor, Cikasur serta beberapa mata air yang ada di sepanjang jalur Baderan yang hanya dinamakan dengan sebutan pos mata air. Tentu saja, selain sumber air yang sangat melimpah di Danau Taman Hidup.

Gunung Argopuro memiliki 2 buah puncak, yakni Puncak Hyang serta Puncak Rengganis. Puncak Hyang merupakan puncak tertinggi dengan ketinggian 3.088 mdpl. Posisi 2 puncak ini sendiri saling berhadapan. Meski bukan merupakan puncak tertinggi, Puncak Rengganis bisa dikatakan menjadi puncak populer bagi kalangan pendaki. Hal ini tidak lepas dari legenda Dewi Rengganis yang berkembang dalam kawasan pegunungan Argopuro.

Di Puncak Rengganis, pendaki akan menemukan susunan batu yang menyerupai kuburan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, dipercaya sebagai kuburan Dewi Rengganis. Masyarakat setempat seringkali mengunjungi puncak Rengganis untuk melakukan ritual kepercayaan dengan membawa ubo rampe sebagai persembahannya.

Salah satu spot menarik lainnya dari pegunungan Argopuro adalah padang savana Cikasur. Di padang ini, terdapat bekas bangunan lapangan terbang yang dipercaya merupakan peninggalan Jepang ketika menjajah Indonesia dahulu. Lintasan terbangnya sendiri masih bisa disaksikan oleh pendaki ketika menuju padang Cikasur jika start dari jalur bremi.

Selain bekas lintasan terbang, di Cikasur juga terdapat aliran sungai yang sangat jernih, dimana banyak ditumbuhi tanaman selada air. Jika ingin melakukan pendakian ke pegunungan Argopuro, jangan lupa membawa sambal pecel untuk menikmati selada air. Ketika berada di Cikasur, pendaki tidak jarang akan menemukan beberapa hewan seperti babi hutan, merak, kijang, atau bahkan harimau yang masih banyak berkeliaran dalam kawasan pegunungan Argopuro.

Selain beberapa keeksotisan tempat seperti yang telah disebutkan di atas, pegunungan Argopuro juga memiliki salah satu tumbuhan khas yang bisa jadi merupakan momok bagi para pendaki yang menjamah keindahannya. Nama tumbuhan tersebut dalam bahasa latin adalah Gardenia palmate atau yang lebih terkenal dengan sebutan tanaman 'Jancukan'.

Asal mula penamaan tanaman jancukan sendiri cukup unik, mengingat kata jancuk merupakan kata umpatan dalam bahasa Jawa Timur. Tumbuhan ini memiliki racun, yang apabila terkena pada permukaan kulit akan menimbulkan efek seperti tersengat lebah dan akan terasa panas.

Menurut cerita yang pernah saya dengar dari penduduk lokal, ketika seorang pendaki terkena racun tumbuhan tersebut, akan refleks mengeluarkan umpatan. Semua karena pengaruh dari efek sengatan yang dihasilkannya, dan umpatan yang populer di kalangan orang Jawa Timur adalah jancuk. Lantas tumbuhan tersebut dinamakan dengan tumbuhan Jancukan.

Meski bukan termasuk gunung mainstream yang ramai dikunjungi oleh pendaki, namun sesungguhnya pegunungan Argopuro menawarkan keindahan yang tidak kalah menawan serta tingkat kesulitan jalur yang cukup menguji fisik para penjamahnya.

Pegunungan Argopuro adalah permata terpendam yang hanya bisa diambil oleh orang-orang yang mau bercinta dengan alam. Bercinta dengan alam adalah saat dimana seorang pendaki menyaksikan, serta merasakan karya cipta Sang Kuasa yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.
.

CATATAN SURVIVOR RICO - GN. MERAPI, NOV 2013




Sabtu, 02 November 2013

Satu bulan yang lalu saya dan teman-teman berencana untuk mengisi hari libur dengan Pendakian ke Gunung Merapi dan Merbabu. Siang hingga sore hari saya bersama Panji menyiapkan Logistik dan perlengkapan yang akan digunakan untuk pendakian.

Selesai menyiapkan logistik dan perlengkapan, saya, Afi, Panji, dan Jamal berangkat menuju ke Terminal Bungurasih. Pukul 18.00 Waktu Indonesia Bagian "Jam Tanganku", kami tiba di Terminal Bungurasih.

Menunggu kedatangan teman-teman yang lain, Mas Danis dan Andik (bukan Vermansyah), kami sempatkan untuk mengisi perut, namun, sampai satu jam berlalu belum ada tanda-tanda kemunculan ke-2 orang tersebut.

Pukul 19.15 (sudah ngantuk, dan capek), datanglah Mas Danis, disusul oleh Andik 15 menit kemudian. Andik mengajak temannya yang lain, yaitu Mas Sigit.

Mungkin karena sedang long week-end (pas libur panjang), agak lama juga dapet bus. Pukul 20.15 Tim rombongan naik bus, berangkat menuju Kota Solo.

Minggu, 03 November 2013

Pukul 03.00 pagi saya terbangun, tak sadar sudah tiba di Kota Solo (mirip lyricnya kereta malam). Di Tirtonadi Solo, kami istirahat 15 menit, dan melaksanakan ibadah subuh di Terminal Tirtonadi. Di musholah Terminal Tirtonadi kami ketemu temen baru Mbak Al, dan Mas Yayan. Selanjutnya perjalanan ke Boyolali ditempuh selama 30 menit.

Pukul 05.10, start menuju Pasar Cepogo, dapet harga murah sih, tapi kok mobilnya ga kuat nanjak, dan hasilnya kami harus berjalan kurang lebih 1 km ke Ps. Cepogo. Sudah nyampek pasar, dan dapet bis ke Selo, eh Nunggu jam 7 baru kemudian berangkat. 53 menit kemudian, sampailah kami di Selo, lagi-lagi jalan ke New Selo, sambil pemanasan badan.


Start Pendakian Menuju Pasar Bubrah

Jam 08.15, New Selo. Di Tulisan ala Holywood itu kami berada saat itu untuk melengkapi logistik, beberapa dari kami sarapan di sini termasuk saya sendiri. Jam 09.20 kami berangkat deh, dan ga lupa berdoa dulu.

Well, perjalanan dimulai, tanpa kepikiran kalo ini awal petualanganku tiga hari jadi survivor. Setelah melewati perkebunan warga, Jam 10 udah tiba di Gapura “Welcome To Merapi Mount National Park”.

Hm.. gak terasa 2 jam berjalan saya, Afi, Al, dan yayan. Teman yang lain tertinggal 30 menit, dua orang dalam Tim kami kondisi fisiknya perlu perhatian khusus. Di sini saya berhenti sejenak karena rintik-rintik gerimis.

Kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan sambil berencana untuk berhenti di Pos I. 1 jam berlalu, belum juga bertemu Pos I, tapi kami menemukan tempat yang sangat indah untuk foto.

Setelah Mas Yayan ngabisin sebatang rokoknya, ternyata udah gak gerimis lagi, dan kami melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Pos I.

Sepanjang jalan banyak pendaki yang turun dan mengingatkan kami, bahwa di atas pasar bubrah sedang terjadi badai.

Satu jam berlalu lagi, dan kami sempat putus asa, karena Pos I saja belum ketemu, gimana puncaknya? Dalam hati saya, jangan-jangan Gunung Merapi sejenis dengan Gunung Argopuro.


Tiba di Pos Kedua

Rasanya sudah gak sabar juga sih. Akhirnya saya tanya orang aja. “Pak, Pos I masih jauh ga?”. “Lhah! Sudah jauh di bawah tadi mas, 10 menit lagi aja udah pos II”. Jawab si bapak. What!? Ternyata tempat kami berhenti waktu gerimis tadi terletak di dekat Pos I.

Tiba Pos II kami putuskan untuk menunggu teman yang lain dan lagi-lagi sempatkan waktu untuk berfoto. Tigapuluh menit, mereka belum dateng juga, si Afi sudah terlelap dan mimpi tiba di puncak.

Lima belas menit kemudian sampailah Mas Danis, Andik (bukan Vermansyah), dan Sigit udah nyampek, tapi Panji? Jamal? Belum keliatan juga ujung hidungnya. Tapi Mas Danis Bilang “Gak apa-apa, kita tunggu di pasar bubrah aja”.

Lima menit kemudian kami melanjutkan lagi ke Pasar Bubrah, sepanjang perjalanan sampe di atas Watu Gajah, ada sekelompok pendaki lain mengingatkan kami dengan kalimat, "Di atas badai Mas".

Benar juga katanya, belum juga nyampek pasar Bubrah, angin ga seperti yang kami kira.

Sebelumnya juga saya pernah merasakan tiupan angin kencang di Gn. Arjuno, tapi tidak sekencang angin di sini.

Angin ini merupakan yang paling kencang yang pernah saya rasakan. Tigapuluh menit kemudian kami sampai di Batu In Memoriam Pelajar Pecinta Alam SMA 4 Yogyakarta.

Setelah mengheningkan cipta sejenak kami mencari tempat istirahat untuk memasak dan menunggu teman-teman yang lain.

Lama juga kami menunggu teman-teman sambil kami menyalakan kompor Gasmate kami dan memasak di atas nesting, tak jauh dari tempat persembahan masyarakat sekitar untuk Gn. Merapi.

Ada Tengkorak Kerbau di balut dengan kain Putih tak jauh dari tempat kami, dan juga tempat menyalakan dupa, posisinya di sebelah kami, yang sempat tersenggol olehku.

Sekitar pukul 14.45 datang lah Mas Danis disusul oleh Panji dan Jamal. Bravo Kawan! kalian sanggup sampai di sini!


Pendakian Menuju Puncak Merapi

Sekitar jam 15.05, itu adalah Terakhir kali saya melihat Jam, karena setelah itu HP kumasukkan ke dalam tas kecil. Tak lupa Victorinox kesayanganku (hadiah dari temanku saat dia di Eropa), kugantung di pergelangan tangan dan kumasukkan ke dalam saku celana seragam abu-abuku dulu yang selalu menemaniku ke Pucak Gunung. 

Botol Air mineral 600ml yang sudah kumodifikasi tutupnya kuberi selang, jadi aku ga perlu repot buka-tutup. Semua barang-barang bawaan kami tinggal di Pasar Bubrah, untuk meringankan beban kami.

Kabut dan badai sudah mereda, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak merapi. Namun di tengah perjalanan, kabut mulai nampak lagi, dan angin mulai kencang, tapi tanggung sudah setengah perjalanan pikir kami.

Perjalananan sudah sejauh ini, sangat sayang apabila kami gagal. Hingga akhirnya setelah jalan pasir, batu kami lalui kami sampai juga di Puncak Merapi pada pukul 16.00.

Kami harus menunggu panji dan jamal sehingga mereka sampai diatas. 15 menit kemudian Panji dan Jamal sampai juga di Puncak Merapi. Selamat kawan!

Tak lama , tiba-tiba hujan mengguyur kami, tepat jam 16.30 kami memutuskan turun. Sekarang giliranku dan mas Danis yang memBack-up panji dan Jamal.

Mereka berlima turun lebih dulu. Hujan yang begitu deras memaksaku untuk menitipkan Tas yang aku bawa ke pada Mas Danis, di dalam tas itu ada Beberapa HP yang sebelumnya dititipkan kepadaku.

Saya  berada di depan jamal untuk mencarikan jalur yang aman untuk dilalui. “Lewat kanan ae! dalane enak!” (lewat kanan saja, jalannya enak). Itu adalah kata-kata terakhirku sebelum akhirnya ada badai yang menghempasku jatuh.


Awal Mula Terpisah Dari Rombongan

Jatuh! Ya saya jatuh tersungkur dan terperosok pasir dan kerikil, kurang lebih sama dengan Ian (Saykoji) waktu jatuh di film 5 cm.

Agak lama saya terjatuh hingga, sempat ling lung, dan pusing. Saya lihat ke belakang, hanya kabut yang saya lihat, jarak pandangku tak lebih dari dua meter.

Saya teriak: "Mas Danis!" Namun tak lebih kencang untuk mengalahkan suara angin kala itu!

Saya jongkok, untuk melihat jalanan (terhalang kabut). Saya kira, saya tetap berada di jalur yang benar, namun sudah tertinggal karena tadi sempat terjatuh. Dan saya harus sampai pasar bubrah sebelum waktu petang!

Saya berdiri, ternyata sandal gunung sebelah kiri putus. Saya lepas dan tinggalkan di tempat itu. Saya berjalan cepat. Namun sial, lagi-lagi ga bisa menjaga keseimbangan karena hempasan angin. Lagi-lagi saya terjatuh.

Saya terkejut kala itu karena angin benar-benar kencang, membawa terbang batu-batu seukuran lebih besar dari kelapa. Saya putuskan tidak berdiri karena beresiko terkena batu-batu itu.

Sampai akhirnya batu berukuran lebih dari 2 X ukuran bola basket mengenai punggungku. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali batu itu tidak menghantam Kepala.

Ya Alloh.. Saya tersesat! Ya saya tersesat, Sendirian, di Gunung Merapi. Saya berlari ke bawah menghindari batu-batu yang terbang itu.

Hingga akhirnya sampai di tempat yang mirip pasar Bubrah. Mirip? Ya Mirip sekali, namun saya hanya berputar ditempat itu. Dan saya sadari! Itu bukan Pasar Bubrah.

Seolah-olah tidak ada jalan, saya duduk di sebuah batu menenangkan diri. Berpikir bagaimana saya bisa keluar dari sini dan kembali ke Rumah di Surabaya.

Saya melihat kala itu ada jalur seperti sungai, namun gak ada air sama sekali, sepertinya bekas sungai. Ya! Pikirku kala itu, Jalur sungai pasti ujungnya ada pemukiman / perkebunan warga. BISMILLAH!

Saya akan memilih jalur itu. Berbekal Victorinox, Botol Air Mineral 600ml (ada isi air 1/4 botol). Sandal cuma sebelah kanan saja, kain sarung saya lilitkan di kepala, mirip jaman kecil kita dulu bermain ninja-nijaan.

Pakaian yang saya pakai kala itu adalah kaos batik, bergambar plesetan wayang yang bermain gitar. Celana SMA, dan Baju Almamater HISTALA 7 (Himpunan Siswa Pecinta Alam SMAN 7 Surabaya) organisasi yang kucintai sampai sekarang ini meski sudah 6th jadi alumni.


Survival Hari Ke-1

Jalan yang kulalui berbatu sangat tajam, terasa menusuk telapak kaki kiriku. Mungkin saat itu sekitar pukul 5.30an, saya tidak tahu pasti. Yang jelas matahari mulai menghilang, berganti shift kerja dengan sang Rembulan.

Saya sampai pada ujung jalan! Ya ternyata dibawahku adalah tebing, meskipun Cuma sekitar lima meter (ga tau pastinya keadaan sudah gelap), tapi benar-benar extrim bagiku. Dimana gak ada perangkat safety apapun, dan penerangan saat itu hanya cahaya dari Sang Pencipta, terima kasih Bulan.

Saya turuni tebing itu dengan segenap tenaga dan kemampuanku, yap sampai di bawah dengan selamat, namun yang gak selamat adalah sandal gunungku yang kanan!

Kembali menelusuri jalur bekas air, namun sekarang tanpa alas kaki apapun. Saat itu, saya merasa ada yang mengikutiku, namun saat kulirik betapa terkejutnya.

Sepertinya saya melihat batu kerikil yang melayang di dasar tebing tadi. Ah, mungkin hanya perasaan saja.

Saya terus melanjutkan langkah kaki. Tuhan! Cobaan apalagi sekarang, hawa dingin benar-benar terasa saat itu ditambah rintik-rintik air kini ikut menemani perjalananku.

Jalan, terus berjalan saat itu, tanpa makanan. Terakhir makan adalah jam 8.30 tadi pagi. Sisa air minum tinggal ¼ botol. Letih ditambah medan yang sangat sulit ketika dilalui dalam kondisi cahaya seperti ini.

Istirahat, itulah yang pernah kudapat ketika dulu belajar ilmu tentang survival. Saya harus menyimpan tenaga untuk melanjutkan perjalanan di hari esok.

Saya melihat ada batu besar sekali dan ada cekungan di bawahnya dan ada batu yang lebih kecil seolah mengganjalnya agar tak jatuh, dan istirahat di dalamnya. Resiko ketika itu adalah, kapanpun batu itu bisa saja jatuh.

Menangis! Ya saya akui, kala itu saya menangis sekencang kencang nya. Mama, keluarga, semua teman-teman yang ikut tadi, Afi, Panji, Danis, Andik, Sigit, Al, Yayan. Saya sayang kalian! Saya gak mau kalian nangis karena saya. Jadi saya harus selamat!

Setelah saya mampu menenangkan pikiran dan hati, saya minta kepada Alloh, ya Alloh, sampaikan kepada ibuku, mama, aku tidak apa-apa. Saya akan selamat sampai Surabaya! Hingga akhirnya saya pun terlelap tidur.


Survival Hari Ke-2

Esok pagi saya terbangun oleh cahaya matahari. Saya tidur menghadap Timur dan terbangun ketika matahari terbit. Yah dengan doa saya melanjutkan perjalanan. berikutnya.

Saya minum sisa air yang tinggal dua tutup botol. Saya putuskan untuk menampung (maaf) air seniku untuk bertahan hidup, karena saat itu tidak ada air tanah sama sekali, batu-batu tidak menampung sedikitpun air.

Saat itu saya putuskan mencoba naik lagi ke Puncak Merapi, setelah batu-batu an yang benar-benar tajam dan tebing yang tak bisa kulalui untuk kembali turun ke Jalur Selo. Saat itu juga kuputuskan untuk kembali ke jalur antah–berantah tadi.

Saya coba untuk memakan vegetasi yang ada di sekitar batuan , namun sial hanya gatal yang aku dapat di lidah. Sesuai dengan yang aku pelajari dulu, bahwa jika di lidah gatal = beracun, ya sudah saya tidak melanjutkan. Hanya minum yang ada di botol ini selama perjalanan.

Sedih, bingung, sedikit rasa takut yang menemaniku sepanjang perjalanan. Kakiku mulai perih siang itu, darah mengalir dari telapak kaki. Saya usap dengan sarungku. Terlintas ide untuk merusak sarungku menjadi alas kaki. Tidak ada lagi rasa eman (sayang) meskipun setiap jumat sarung ini yang kugunakan.

Meskipun sedih, takut dan lain-lain, namun jujur saja, saya sangat takjub saat itu melihat jurang dan tebing yang benar-benar luar biasa. Alloh! sungguh Indah ciptaan Engkau.. Ah sayang tidak ada kamera / HP yang digunakan untuk mengabadaikan moment ini.

Sore mulai menjelang, seperti mendapat “Jackpot” saya lihat ada genangan air di atas batu, yang cukup untuk tiga teguk. Alhamdulillah, terima kasih Alloh untuk Air ini. Mohon maaf ya teman-teman hewan yang minum ini, sekarang saya benar-benar butuh.

Perjalanan saya lajutkan ke arah Timur ini dan, Subhanallah, saya melihat pemukiman warga, meskipun masih jauh tapi saya bersyukur.

Yah, saat hari sudah mulai sore, lagi-lagi saya terpesona dengan keindahan batuan di tebing-tebing Merapi, melewatinya dan bersyukur banyak air melimpah di bebatuan yang menampungnya.

Aaya melihat sesosok unggas berbulu putih seukuran itik hinggap di batu yang berjarak kurang lebih limapuluh meter dari tempatku mengumpulkan air. Apakah elang yang ada di hadapanku? Benar,itu Elang Jawa rupanya.

Pikiranku yang kala itu di kendalikan oleh perut, benar-benar gelap mata dan mengendap-endap di belakangnya. Aku buka victorinoxku, pikirku paling tidak aku harus dapatkan telurnya.

Semakin dekat dan mendekatlah aku pada sarang itu, namun aku terkejut, ternyata sang Elang Putih itu sedang menyuapi anak-anaknya, ALLOH, hati saya benar luluh--Gak tega, bener-benar tak tega melihat keluarga bahagia itu.

Victorinox saya tutup kembali, namun saya kembali takjub akan alam Merapi, ternyata si Induk melihat keberadaanku dengan jarak sekitar 10–5 m, namun bukan seperti yang dibayangkan si Induk akan marah dan menyerangku, malah dia seolah membiarkan ku melihat keindahan bulunya. Oh Tuhan terima kasih, seandainya aku membawa kamera/ HP saya bisa berbagi dengan semua.

Lalu seolah saya lupa waktu karena melihatnya. Saya sadar bahwa saya sedang tersesat, dan harus kembali berjalan. Sampai jumpa kawan, semoga kau dan anak-anak mu sehat selalu dan tetap berada di alam tanpa gangguan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Saya melihat ke atas, seolah-olah ada jalan setapak. Saya gembira sekali ternyata sudah bertemu dengan jalur manusia. Saya usaha semampunya untuk kesana, namun saya terkejut, jalur ini bukanlah jalur manusia, jejaknya jejak binatang.

Oh Tuhan, jika saya ke sana hanya dua pilihannya, saya yang memakan hewan-hewan itu, atau saya yang jadi santapannya.

Saya putuskan kembali ke jalur yang tadi. Saya harus bersiap karena sebentar lagi bulan akan menggantikan matahari. Saya harus mencari tempat berteduh, bertahan hidup malam ini, istirahat untuk menyimpan tenaga.

Saya temukan batu namun tidak sebesar kemarin, dan hanya bisa menampung badan saja, kakiku tetap diluar. Ah tidak apa, tidak mendung cuacanya, tapi alam berkata lain.

Malam itu hujan deras, cukup lama juga saya bertahan dalam keadaan basah dan dingin. Oh tuhan, cobaan apa lagi ini, saya seolah melihat kabut tebal, namun berbentuk manusia melayang ke arahku. Saya hanya bisa berdoa, setelah itu aku tertidur karena terlalu letih.

... Di dalam tenda, saya, Afi, Danis, dan Andik baru bangun. Dan seperti biasa Andik menyuruhku membuat sarapan untuk kami. Mereka tersenyum padaku. Saya membuka nesting dan memasak nasi dan telur untuk sarapan. Ketika saya makan, keadaan berubah! Saya terbangun karena saat itu aku muntah berkali – kali. Dan saya sadar, terbangun dari mimpi yang indah ...

Istighfar, hanya itu yang saya mampu dikatakan saat itu. Saya paksa tubuh untuk mampu terlelap lagi dengan kondisi yang ada.


Survival Hari Ke-3

Paginya saya bangun. “Ah...ini saatnya melanjutkan perjalanan”. Namun sebelumnya saya mengumpulkan air dari hujan semalam“. Hikmah hujan semalam, gumamku sambil tersenyum.

Berbicara sendiri, menyanyi dan seolah berbicara dan memohon kepada Alloh itu adalah hiburan yang ada saat itu. Benar kata orang yang mengalami nasib sama denganku saat sendiri dan tersesat di hutan. Kita akan merasa sangat butuh berkomunikasi, atau kita akan mengalami gangguan mental.

Setelah botol terisi dengan air, walaupun tidak sampai penuh. Saya lanjutkan lagi perjalanan. Hingga saya dihadapkan dengan tebing yang sangat amat curam dibanding tebing-tebing kemarin. Kedalaman antara 100-150m.

Oh tuhan, saya tidak sanggup. Saya orientasi medan saat itu mencari jalan lain untuk sampai di dasar tebing.

Setelah beberapa menit perjalanan saya istirahat, kebetulan saya melihat WALANG (bahasa jawa = belalang). saya tangkap, dan meminta maaf, sambil dan mematahkan kaki dan kepalanya. Kemudian saya telan mentah-mentah. Lumayan lah, dan saya bisa dapat dua ekor.


Teman-temanku Sudah Lapor Kepada TIM SAR.

Pagi itu setelah sarapan walang. Saya dengar ada gemuruh kaki orang dan beberapa ada yang berbicara.

Ya, saya yakin itu manusia. Saya teriak sekuat tenaga. “Tolooooooong”!

Mereka menjawab “Rico?”, tanya mereka mengkonfirmasi apakah itu benar-benar saya.

"Ya Pak", jawabku. Salah satu dari mereka memberi instruksi.

"Cari tempat terbuka dan Lambaikan Kain ke arah Utara"!  Posisi mereka ada di atas ketinggian sekitar 100-150m dari tempatku berada.

Setelah melihat posisiku lalu saya disuruh mencari tempat berteduh, dan tidur untuk menunggu beberapa menit sampai mereka tiba tempatku.

Setelah tertidur, sayup-sayup saya dengar suara panggilan dari Tim SAR, yang sekarang saya kenal dengan sebutan Mbah Gondrong, nama aselinya Agus Santosa.

Tim SAR datang dan memberiku air minum dan Roti isi Coklat. Tubuhku belum mampu menerima makanan dan aminuman, dan muntah berkali-kali.

Tim SAR bilang, "teruskan saja sampai tubuhmu nerima makanan, berarti kamu sudah siap melanjutkan perjalanan." Jam 1 siang, mereka bertanya, "Apakah sudah siap?" Saya jawab "ok". 

Sebelum jalan kita foto dulu, kata TIM SAR lain yang saya kenal sekarang, namanya Mas Misdi.

Saya ganti celana abu-abu SMA yang sudah hancur dengan celana RAIN COAT milik TIM SAR. Memakai full body harness, dan dikaitkan dengan tali webbing yang disambung-sambung hingga panjang. Naik dari bawah ke atas dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

Cuaca saat itu sedang turun hujan. Saya diberi rain coat oleh salah satu dari Tim SAR.

Saya dan Tim SAR naik ke atas, di mana mereka pertama kali menemukanku, dan setelah sampai di atas, saya baru tau ternyata itu adalah jalur pendakian merapi via Deles. Di dekat Pos II Deles.

Sepanjang perjalanan saya dihibur oleh TIM SAR dengan saling bercanda. Ketika di tengah perjalanan kami break sejenak.

Saya terkejut mendengar penjelasan TIM SAR, bahwa saya adalah korban ke-3 yang selamat dari tempat ditemukan tadi. Survivor yang lainnya meninggal dunia. Innalillahi....


Kembali Pulang Ke Surabaya

Sekitar jam dua siang, saya sampai di jalur pendakian deles. Di sana saya dirawat oleh TIM SAR, ganti baju, diberi minyak gandapura, diberi makan Mie Instan dan Air Hangat, “Terima Kasih “, ucapku lemah.

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke POS Deles. Akhirnya pada pukul delapan malam kurang lebih, kami tiba di POS Deles. Sudah ada Mobil Ambulance dan Afi yang menungguku.

Kami langsung menuju Rumah Sakit Cakra Husada Klaten. Setelah itu di RS, saya dirawat. Tak lama kemudian saya dengar suara ibu. Ternyata keluargaku menyusul dari Surabaya ke klaten.

Tangis haru menyelimuti ruangan itu, di sana ada Kakak, Paman dan teman-temanku. Hanya ibuku yang tersenyum dan memelukku sambil berkata, “Mama yakin kamu selamat”.

Setelah infusku habis kami berpamitan dengan TIM SAR yang baik hati dan tulus menolong tanpa mengharapkan apapun. Kami pun kembali pulang ke Surabaya.

MERAPI! Terima kasih atas pengalaman yang luar biasa ini. Seumur hidup tak akan pernah saya lupakan.

Terima kasih TIM SAR Boyolali dan KLATEN. Terima kasih pada TNI yang bekerja sama dengan Tim SAR.

Terima Kasih WALANG. Matur Nuwun Sanget Mbah Gondrong, Mas Misdi, Mas Gimar. Dan semua yang telah menolong saya.

Saya gak akan melupakan jasa-jasa mereka semua. Terima kasih sekali lagi Merapi. Sampai jumpa lagi.


Share dengan sesama Penggiat Alam Bebas, semoga bermanfaat, Jabat salam Topi Rimba!

MANAJEMEN PERJALANAN & PERALATAN MENDAKI GUNUNG



Perencanan perjalanan Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki. Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan : Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
■ Mempelajari medan yang akan ditempuh.
■ Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
■ Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
■ Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.
■ Perlengkapan dasar perjalanan Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas
■ hujan, dll. Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
■ Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
■ Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper /
■ tissu, dll. Ransel / carrier.
■ Perlengkapan pembantu Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
■ Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
■ Jam tangan.

Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.
•Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
•Masukkan dalam kantong plastik.
•Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
•Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
•Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
•Buat Checklist barang barang tersebut

Pedoman Perjalanan Alam Terbuka
Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.

Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut
:•Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, misalnya: Tangkiling-Bukit Batu-Palangkaraya.
•Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. contoh: satu kelompok (25 personil) terdiri dari 5 orang anggota penuh (panitia) dan 20 orang siswa DIKLAT (peserta)
•Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam-macam contoh : Untuk melakukan DIKLATSAR.
•When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama ? contoh : 23 Februari 2005 sampai dengan 25 Februari 2005 Dari pertanyaan-pertanyaan 4 W, maka didapat suatu gambaran sebagai berikut: pada tanggal 23-25 Februari 2007 akan diadakan DIKLAT, yang akan dilaksanakan oleh 5 panitia dan diikuti 20 orang siswa DIKLAT. Tempat yang digunakan untuk DIKLAT tersebut yaitu di Lompobattang-Bawakaraeng.
Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :
•Bagaimana kondisi lokasi
•Bagaimana cuaca disana
•Bagaimana perizinannya
•Bagaimana mendapatkan air
•Bagaimana pengaturan tugas panitia
•Bagaimana acara akan berlangsung
•Bagaimana materi yang disampaikan
•dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)
Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana gegiatan yang didalamnya mencakup rincian :
1. Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
2. Pengurusan perizinan
3. Pembagian tugas panitia
4.Persiapan kebutuhan acara
5.Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
6.dan lain sebagainya.

Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (hutan, rawa, tebing, dll)
2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan, latihan, penelitian, SAR, dll)
3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3 hari, seminggu, sebulan, dsb)
4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban
5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya : obat-obatan tertentu)

Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat menyiapkan perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi beratnya tidak melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg), walaupun ada yang mempunyai kemampuan mengangkat beban sampai 30 kg.

Dari kegiatan penjelajahan, ada beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :
1. Perjalanan pendakian gunung
2. Perjalanan menempuh rimba
3. Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan rawa
4. Perjalanan penelusuran gua
5. Perjalanan pelayaran

Untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa pula dikelompokkan berdasarkan jenis medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan tersebut, kita dapat mengelompokkan perlengkapannya sebagai berikut :

1. Perlengkapan dasar, meliputi :
o Perlengkapan dalam perjalanan / pergerakkan
o Perlengkapan untuk istirahat
o Perlengkapan makan dan minum
o Perlengkapan mandi
o Perlengkapan pribadi

2. Perlengkapan khusus, disesuaikan dengan perjalananan, misalnya
o Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
o Perlengkapan penyusuran sungai (perahu, dayung, pelampung, dll)
o Perlengkapan pendakian tebing batu (carabineer, tali, chock, dll)
o Perlengkapan penelusuran gua (helm, headlamp/senter, harness, sepatu karet, dll)

3. Perlengkapan tambahan Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan (misalnya : semir, kelambu, gaiter, dll).

Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka sebelum memulai kegiatan, sebaiknya dibuatkan check-list terlebih dahulu. Perlengkapan dikelompokkan menurut jenisnya, lalu periksa lagi mana yang perlu dibawa dan tidak. Apabila perjalanan kita lakukan dengan berkelompok, maka check-list nya untuk perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan besar dan memerlukan waktu yang lama, kita perlu menentukan perlengkapan dan perbekalan mana saja yang dibawa dari rumah atau titik keberangktan, dan perlengkapan atau perbekalan mana saja yang bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan perjalanan kita. Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Packing

Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.

Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :
1.Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan [misalnya pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.
2.Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.

Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :
•Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik. •Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
•Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
•Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar carrier, karena barang diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam carrier.
Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.


Memilih dan Menempatkan Barang

Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.
Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.

Kantung Plastik ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.

Menyimpan Pakaian ;Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak
dicampur dengan pakaian bersih.

Menyimpan Makanan ;Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.

Menyimpan Korek Api Batangan ;Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.

Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.

Perlengkapan Pribadi Alam Bebas

Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.

Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.

Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.

Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.


1. Tutup kepala/topi
Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.

2. Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.

3. Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bisa terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.

Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.

4. Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti.


5. Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es].

6. Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adalah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.

7. Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bila suatu saat basah.

8. Carrier
Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mampu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal.

9. Alat masak, makan dan mandi
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat aktu dan bahan masalak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.Jangan lupa juga siapkan phiples minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis phipless].Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.

10. Obat-obatan dan Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu seperti asma. Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.

Perencanaan Perbekalan

Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb)

Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah
Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat-syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-langkah berikut :Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang diperlukan.Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak, hitung masing-masing kalori totalnya (setelah siap dimakan).Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan mineral secukupnya.

Catatan :

Kandungan kalori :
- hidrat arang 4 kal/gr
- lemak 9 kal/gr
- protein 4 kal/gr

Kalori paling cepat didapat dari :
1. Hidrat arang
2. lemak
3. protein

Kebutuhan kalori per 100 pounds berat badan (sekitar 45 kg)
1 Metabolisme basal 1100 kalori
2 Aktifitas tubuh :
Jalan Kaki 2 mil/jam 45 kal/jam
3 mil/jam 90 kal/jam
4 mil/jam 160 kal/jam

Memotong kayu/tebas
260 kal/jam

Makan
20 kal/jam

Duduk (diam) 20 kal/jam

Bongkar pasang ransel, buat camp
50 kal/jam

Menggigil
220 kal/jam
3 Aktifitas dinamis khusus = 6 - 8 % dari 1 dan 2
4 Total kalori yang dibutuhkan = 1 + 2 + 3

Jenis Bahan Makanan dan Macam Makanan
Sumber kalori dari hidrat arang tiap 100 gram
Beras giling 360 kal Nasi 178 kal
Havermout 390 kal Kentang 90 kal
Singkong 140 kal Macaroni 363 kal
Maizena 343 kal Roti 248 kal
Tape singkong 173 kal Gaplek 363 kal
Biskuit 458 kal Sagu 353 kal
Terigu 365 kal Ubi 123 kal
Gula pasir 364 kal Gula aren 368 kal
Madu 294 kal Coklat pahit 504 kal
Coklat manis 472 kal Coklat susu 381 kal

Sumber Protein (tiap 100 gram)
Tempe 119 kla
Kacang tanah rebus dengan kulit 360 kal
Telur ayam 162 kal
Telur bebek 189 kal

Sumber protein dan lemak (tiap 100 gram)

Corned 241 kal
Daging asap 191 kal
Dendeng 433 kal
Sardens 338 kal
Menu makanan satu hari :
Mie 1.5 gelas 335 kal
Susu kental manis ½ gelas 336 kal
Dodol ½ ons 200 kal
Coklat 1 ons 472 kal
Nasi 2 ons 360 kal
Roti 1 ons 248 kal
Biscuit 1 ons 458 kal
Corned ½ ons 120 kal
Dendeng 1 ons 433 kal

TOTAL 2962 kal “

Bila engkau tidak dapat menjadi beringin yang tegak diatas puncak bukit, maka jadilah saja rumput, tetapi rumput yang tumbuh memperkuat tanggul. Bila engkau tidak bisa menjadi jalan besar, maka jadilah saja jalan setapak, tetapi jalan setapak yang menuju ke mata air. Tidak semuanya dapat menjadi nahkoda, tentu harus ada kelasi. Sebaik-baiknya engkau adalah menjadi dirimu sendiri.”

Perjalanan ke alam terbuka pasti mengandung resiko. Tiap perjalanan memiliki tingkat resiko dan bahaya yang bervariasi.bahaya dan resiko tersebut dapat jauh diminimalisir dengan berbagai persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

1.Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

2.Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

3.Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

4.Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

5.Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

6.Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

7.Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.

Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Persiapan mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.
•Kesiapan mental. Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.
•Kesiapan fisik. Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.
•Kesiapan administrasi. Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.
•Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Mengenal Jenis Gunung dan Grade Pendakian

Pada garis besar gunung terbagi menjadi 2, yaitu gunung berapi/aktif dan tidak aktif. Berdasar bentuknya dibagi menjadi :
1.Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) == seperti perisai
2.Gunung berapi strato
3.Gunung berapi maar == Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas vulkanisme terhenti, yang tinggal hanya kawahnya saja.
Macam dan tingkat pendakian gunung macam pendakian, yaitu pendakian gunung bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya mambutuhkan persiapan dan perlengkapan yang matang. Menurut Club "Mountaineers", Seatle Washington, dasar pembagian tingkat pendakian ada dua cara.


1. Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai ( class)
•class 1 ; lintas alam tanpa bantuan tangan
•class 2 ; dibutuhkan bantuan tangan
•class 3 ; pendakian yang mudah memerlukan kaki dan tangan dalam mendaki, tali mungkin dibutuhkan oleh pemula
•class 4 ; pendakian memerlukan tali pengaman
•class 5 ; dibutuhkan tali dan pengaman peralatan lain seperti : piton, runner, chocks dll
•class 6 ; mandaki dengan tali dengan peralatan bantuan sepenuhnya berpijak
diatas paku tebing, memenjat rantai sling atau mengunakan stirupss Pendakian claass 4 masuk dalam katagori scrembling [Mendaki dengan cara mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan medan yang miring sampai 45 derajat] dan class 5 - 6 sudah dapat dikatagorikan sebagai climbing [panjat]. Dimana class 5 merupakan free-climbing [Pemanjatan dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, alat hanya sebagai pengaman saja ] dan class 6 adalah artificial climbing [Pemanjatan dengan menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya dipijak atau disentak dan dipegang ]. Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas disebut rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and ice climbing .

2. Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian dalam medan pendakian (grade)
•grade I, bagian yang sukar dapat ditempuh dalam beberapa jam
•grade II, bagian yang sukar ditempuh dalam setengah hari
•grade III, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh
•grade IV, bagian yang sukar ditempuh dalam sehari penuh dan memerlukan bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik
•grade V, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 1,5-2,5 hari
•grade VI, bagian yang sukar ditempuh dalam waktu 2 hari atau lebih dan dengan banyak sekali kesulitan

3. Berdasarkan tingkat keamanan pemanjat dari kemampuan alat yang digunakan
•A1 ;aman sekali, peralatan yang dipasang dan digunakan dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan pendaki
•A2 ;aman, jikapun terjadi masalah, alat masih dapat diandalkan untuk mencegah akibat yang lebih fatal [misalnya jatuh tidak sampai kedasar]
•A3 ;penggunan alat pengaman cukup aman tetapi tidak dapat diandalkan untuk menjaga resiko jatuh, kecuali dengan pemasangan yang sangat teliti dan fall-faktor yang tidak terlalu berbeban tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat-alat akan copot dan pendaki bisa menerima akibat fatal
•A4 ;pengaman yang digunakan tidak dapat diharapkan untuk dapat menahan beban jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman psykologis untuk menguatkan mental pendaki

4. Berdasarkan tingkat kesulitan [difficult] medan pendakian
Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan Yossemite Decimal System [YDS]. Pang-katagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena itu YDS dimulai dengan grade 5 dan seterusnya. Pengkatagorian demikian biasanya digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing [Memanjat sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek]

Anehnya YDS sendiri menyalahi kaidah matematis penghitungan decimal, dimana misalnya suatu jalur mempunyai ketinggian 5,9 [lima point sembilan] lalu grade selanjutnya menjadi 5.10 [lima point sepuluh]. Peng-angka-an ini menjadi “aneh” akibat grade 5.9 lebih rendah dibanding dengan 5.10, padahal dalam matematika sebaliknya.

YDS sendiri diawali dengan grade 5.8 atau 5.9, selanjutnya 5.10, 5.11, 5.12, 5.13 dan 5.14. Sampai saat ini tidak ada grade melebihi 5.14.

Perkembangan keanehan peng-angka-an decimal ini menurut beberapa diskusi pegiatan pendakian dan panjat tebing akibat keselahan memprediksikan kemampuan pendakian pada saat system YDS dipublikasikan. Dimana pada saat itu diperkirakan kemampuan pendakian / panjat hanya sampai grade 5.9. Padahal dalam kemudian berkembangan kemampuan pendakian / pemanjatan yang lebih mutakhir dan luar bisa.

Bahkan saking sulitnya menentukan dengan hanya angka-angka decimal yang terbatas,
seiring dengan banyaknya jalur pendakian/pemanjatan yang dibuat oleh kalangan pemanjat, maka grade decimalpun ditambahkan dibelangkannya dengan alfhabet.
Contoh; 5.12a, 5.13 d atau 5.14 c
Memang sampai saat sekarang barangkali hanya ada beberapa jalur yang dibuat manusia dengan grade 5.14, itupun terbatas pada jalur-jalur pendek.

Secara umum grading dengan YDS dapat dijelaskan sebagai berikut :
•5.8 ; jalur yang ditempuh mudah, grip [pegangan] sangat bisa digunakan oleh bagian tubuh yang ada untuk menambah ketinggian
•5.9 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari
•5.10 ; jalur yang ditempuh dengan metode 3 bertahan 1 mencari, hanya saja perlu keseimbangan [balance] yang baik
•5.11 ; dapat bertahan pada 2 atau 3 grip dengan satu diantaranya sangat minim dan perlu keseimbangan. Jalur hang hampir bisa dipastikan memiliki grade demikian.
•5.12 ; terdapat 2 dari 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian. Dengan kondisi grip yang kecil di satu bagiannya atau paling tidak sama
•5.13 ; hanya 1 dari diantara 2 kaki dan 2 tangan yang dapat digunakan untuk menambah ketinggian, itupun dengan grip yang sangat minim.
•5.14 ; “mulus seperti kaca”, tidak mungkin terpikirkan untuk dapat dibuat jalur pendakian/pemanjatan Makanan (logistik)

Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi pendaki, selama pendakian seserorang membutuhkan sitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam (saat berkemah) alasayanya beras realtif berat dan memerluakan waktu yang lama untu memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras dapat diganti dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit.

Hal yang perlu diperjatikan hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar, buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat, biskuit dan kismis.

Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan instan yang memiliki kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun tidak banyak memakan tempat didalam ransel.

Peralatan lain

Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil yang terdanag dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obat-obatan seperti pelester, obat merah, tisu basah dan kering, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang dibutuhkan dalam keadaan darurat atau menjaga tubuh tetap bersih.

Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah jangan lupa membawa tas / kantong plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang yang kotor dan basah sebelum dicuci dan tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali sampah-sampah pendakian, sampah-sampah sisa makanan atau berkemah, janganlah dibuang begitu saja di alam terbuka. Selain megotori, membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian oarang tersesat terbantu dengan petunjuk dari barang-barang yang tercecer.

Jenis-Jenis Pendakian / Perjalanan

Olah raga mendaki gunung sebenarnya mempunyai tingkat dan kualifikasinya. Seperti yang sering kita kenal dengan istilah mountaineering atau istilah serupa lainnya. Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering dapat dibagi sebagai berikut :

1. Hill Walking / Feel Walking

•Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis pendakian. Perjalanan ini dapat memakan waktu sampai beberapa hari. Contohnya perjalanan ke Gunung Gede atau Ceremai.

2. Scarmbling

•Pendakian setahap demi setahap pada suatu permukaan yang tidak begitu terjal. Tangan kadang-kadang dipergunakan hanya untuk keseimbangan. Contohnya : pendakian di sekitar puncak Gunung Gede Jalur Cibodas.

3. Climbing

•Dikenal sebagai suatu perjalanan pendek, yang umumnya tidak memakan waktu lebih dari 1 hari,hanya rekreasi ataupun beberapa pendakian gunung yang praktis. Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik mendaki dan penguasaan pemakaian peralatan.
Bentuk climbing ada 2 macam :
a. Rock Climbing- pendakian pada tebing-tebing batau atau dinding karang. Jenis pendakian ini yang umumnya ada di daerah tropis.
b. Snow and Ice Climbing- Pendakian pada es dan salju. Pada pendakian ini, peralatan-peralatan khusus sangat diperlukan, seperti ice axe, ice screw, crampton, dll.

PUISI PENDAKI



Kerinduan nyanyian alam
Membawa angan melayang
Susuri tapak-tapak kaki silam
Tertutup semak berduri dan berdebu
Yang sekian lama menyesak kalbu
Menguji kekuatan sanubari kehidupan demi kehidupan
Menuju puncak kehormatan meski tanpa bentuk
Seperti terlukis dalam benak


Semakin lama langkah tak terkendali, terseok-seok
Jatuh bangun, kadang keluar jalur setapak
Aku tersentak, bingung, kagum, penat, …

Entah apalagi
Terdiam berdiri kutoleh ke segala penjuru arah
Oh… ternyata harus jengah sejenak mengusap keringat
Dingin berselimut kabut terasa menusuk belulang
Terduduk lamunan membawa bimbang
Pada seluruh perseteruan rasa, asa, dan maut…


Namun, gejolak itu cepat mereda terbuai
Rona alam yang tak asing dalam ingatan
Keabadian edelweis mengejek sisa-sisa semangat
Aku marah …
Aku berontak menggandeng segenap rasa
Yang bersemayam dalam diri mencoba jejakkan langkah
Pada episode selanjutnya


Akhirnya, …
Perjalanan hidup mati ini pun sampai pada puncaknya
Sembah sujud mencium tanah kebebasan
Sembari histeris mengagungkan nama Ilahi


Dan …
Terdiam kurenung menyadari
Begitu banyak puncak yang belum terdaki,
Ternyata masih belum waktunya
Melepas tawa-tawa bahagia